Dolan

Banyak Cerita Menuju Pulau Kenawa di Sumbawa (1)

Pulau kenawa, pulau kecil tak berpenghuni di sumbawa yang menghipnotis banyak orang untuk datang menyambanginya baik wisatawan lokal maupun turis asing, termasuk saya. padang savananya yang subur, lautnya yang biru tenang, serta bukit mungilnya untuk menikmati terbitnya matahari.  Tempat yang sangat cocok untuk mengasingkan diri, sekaligus menggosongkan diri :3

Sudah lama saya berencana kesana, dan kali ini saya beneran kesana. Banyak referensi dan informasi sudah saya persiapkan untuk bekal mengasingkan diri disana. Seisi google sudah saya kuras habis, namun apa yang sudah saya baca di website atau blog semua hanya berisikan angin surga belaka, seolah perjalanan berjalan mulus dan berakhir dengan bahagia sejahtera damai sentosa.

Banyak cerita-cerita minus yang belum tersampaikan disana, sehingga kita tidak tahu sisi lain dari sebuah perjalanan tersebut, padahal yang kita butuhkan adalah prosesnya kesana bukan sekedar hanya keindahannya saja. Nah disini saya akan bagikan itinerary saya selama perjalanan disana sekaligus tips/solusi yang diperlukan disana , siapa tau ada yang membutuhkan.

RABU, 29 APRIL 2015

Sore itu jalanan macet mengiringi perjalanan saya pulang dari kantor gegara rapat dadakan yang membuat sedikit panik karena harus buru-buru packing perbekalan yang masih loading 60% . waktu yang semakin mepet, mandi pun tak sempat, daripada telat , kunci motorpun langsung sikaaat,  untungnya perjalanan dari rumah menuju stasiun lempuyangan cukup 15 menit.

*persiapkan perbekalan minimal satu hari sebelum hari H, karena mendekati hari H biasanya ada-ada saja kejadiannya.. hufft

Saya berangkat berdua dari jogja menggunakan kereta api jurusan lempuyangan – gubeng pukul 19.32 Wib, didalam kereta sudah penuh dengan para penumpang dengan berbagai bentuk kelas ekonomi, AC yang semula menyejukkan hati lama-lama dinginnya keterlaluan. Kurang lebih 6 jam perjalanan tibalah di stasiun gubeng Surabaya pukul 01.25 wib. Masih ada sisa beberapa jam untuk menjemput pagi sambil tiduran di emperan stasiun gubeng menunggu kedatangan satu orang teman dari Jakarta yang keretanya tiba pukul 03.30 wib.

KAMIS, 30 APRIL 2015

Matahari perlahan mulai menyingsing dan geliat perekonomian sudah mulai nampak, kami bertiga segera bergegas menuju titik selanjutnya yaitu bandara Juanda. Ada beberapa pilihan menuju ke bandara seperti bus damri atau taxi, namun kita memilih taxi untuk lebih mudahnya.

Tiba di bandara juanda masih pukul 06.00 wib, padahal pesawat take off pukul 08.50 wib, masih banyak waktu untuk istirahat sambil memfinalkan itinerary , karena kita bertiga baru kenalan di stasiun dan nantinya juga akan tambah satu orang lagi dari Jakarta turun di Lombok sehingga jumlah menjadi berempat. Kita tidak saling kenal sebelumnya namun mempunyai misi yang sama menuju ke pulau kenawa. Jadi intinya yang kita butuhkan adalah sharecost di jalan :d

Pukul 08.50  – 10.45 wita kita tiba di Lombok, hembusan hawa panas sudah menyambut kedatangan kami. Kita berangkat dalam dua gelombang, saya berdua berangkat duluan, sedangkan yang satu masih menunggu seorang lagi tiba dari Jakarta pukul 13.00 wita.

*karena di pesawat tidak boleh membawa gas portable, maka gas bisa dibeli di indomart bandara untuk kebutuhan camping di pulau kenawa.

Tujuan selanjutnya adalah menuju pelabuhan kayangan di lombok timur, saya membeli tiket bus damri didalam bandara untuk jurusan praya-selong seharga 30rb, namun karena tidak ada bus yang langsung ke pelabuhan maka saya disaranakan turun di Masbagig lalu melanjutkan dengan angkutan lain ke pelabuhan. Masbagig adalah nama sebuah daerah di Lombok timur klo gak salah.

Bus berangkat dari bandara sekitar pukul 13.00 wita walaupun bus baru terisi hanya 5 orang saja. Kondisi bus juga sangat bagus dan ber AC , lumayan bisa untuk tiduran selama 1 jam perjalanan menuju masbagig.

Sekitar Pukul 14.00 wita saya tiba di masbagig, disinilah awal mula sebuah kejadian tidak mengenakkan terjadi. Begitu turun di pinggir jalan kita langsung dikejar-kejar para ojek (ojek yang berhati preman), meski saya sudah mengatakan TIDAK namun mereka tetap memaksa dengan nada tinggi bahkan lengan saya sempat diseret-seret. Tak hanya seorang saja yang mendatangi saya, empat orangpun ada. Mereka sempat mengatakan tak ada angkot ke pelabuhan sambil menghadangkan motor dihadapan saya sementara orang-orang dipinggir jalan cuma bisa melihat dengan wajah datar.

Disitu beberapa saat saya sempat tidak bisa berkutik, biasanya dalam keadaan kepepet seperti ini saya bisa berpikir cepat tapi untuk kali ini tidak. Akhirnya saya berpura-pura jajan di sebuah warung seberang jalan, hanya untuk alibi, intinya untuk berpikir sejenak bagaimana saya bisa keluar dari sarang babi hutan brengsek ini, meskipun mereka masih membuntuti kami, makanpun sampai ditunggui.

Sambil makan saya mencoba browsing mencari nomor taxi lokal dan untungknya diluar dugaan internet sangat kenceng.. Alhamdulillah, setelah saya telpon selang beberapa menit mungkin 5 menitan datanglah taxi. Betapa sumringahnya saya melihat taxi itu. Langsung tanpa basa-basi saya masuk ke taxi dengan tas carrier masih nempel dipunggung. Begitu taxi hendak berjalan dicegatlah oleh dua orang preman tersebut dengan menghadangkan motor didepan taxi, lalu mereka turun menghampiri sopir taxi, entah apa yang mereka katakan dengan bahasa mereka yang saya tidak mudeng intinya mereka minta uang. Dikasihlah sama sopir taxi tapi dilempar kembali uang tsb ke dalam taxi, karena uangnya terlalu sedikit dan minta duit lebih, dasar anj***ng ni preman.

*sebelum melakukan perjalanan jangan lupa kumpulkan semua list kontak telepon taxi setempat untuk jaga-jaga jika terjadi kondisi darurat seperti diatas.

Setelah urusan sama preman selesai taxi melaju ke pelabuhan, sopir taxi sempat bercerita memang transportasi disini masih susah, bahkan taxi tak berani mangkal di pelabuhan karena sudah dikuasai preman dan calo. Pernah kejadian dia berurusan sama preman di sebuah pelabuhan sampai-sampai kunci kontak di buang ke laut, tak hanya itu saja taxi sempat diancam mau dibakar. Begitulah segelintir curhatan sepanjang perjalanan menuju pelabuhan.

*jadi jalur yang saya ambil ini adalah SALAH, jalur aman dari bandara ke pelabuhan sebaiknya ke terminal mandalika di mataram terlebih dahulu lalu cari bus yang menuju ke pelabuhan kayangan. Walaupun ngalang.

kapal dari pelabuhan kayangan

kapal dari pelabuhan kayangan

Di pelabuhan kayangan, tiap jam selalu ada jadwal pemberangkatan menuju pelabuhan Pototano di Sumbawa dengan harga tiket 19rb. Perjalanan dilaut menghabiskan waktu sekitar 1.5 jam.

Saya suka naik kapal, apalagi nongkrong di deck atas kapal sambil melamun melihat luasnya lautan diiringi lagu dangdut samar-samat terdengar dari dalam. Disamping saya nampak dua orang yang sibuk foto-foto dengan Gopro miliknya, lama-kelamaan kok logatnya mirip upin ipin… eh ternyata wisatawan dari negeri seberang, Malaysia. Sempat berbincang juga bahwa mereka baru saja turun dari gunung rinjani dan sekarang mau lanjut ke pulau kenawa sama seperti saya.

Tiba di pelabuhan Pototano sudah hampir pukul 17.00 wita, perjalanan masih berlanjut lagi menuju pulau kenawa menggunakan perahu motor. Sebelumnya saya sudah mendapatkan nomor kontak seseorang yang bersedia mengantarkan saya ke pulau kenawa. Nomor ini saya dapatkan dari kenalan di instagram yang kebetulan dia bekerja di dekat pototano.

Sebut saja namanya mas Kamiolah yang akan mengantarkan saya ke kenawa, orangnya sangat baik, ramah, dan murah senyum. Tinggalnya di kampung nelayan dekat pototano. Setelah nego saya mendapat harga 200rb untuk PP. cukup murah untuk ukuran saya yang hanya berdua saja saat itu, karena yang dua lagi masih berjuang untuk sampai Pototano.

Perjalanan ke kenawa ditempuh hanya 15-20 menit saja. Sambil menikmati semilir angin di perahu , saya mendapat informasi bahwa dua orang teman saya yang sedang menuju pelabuhan kayangan juga mengalami nasib yang hampir sama karena susahnya transportasi disana.

Lain cerita dengan saya yang dipalak preman, mereka berdua diturunkan ditengah jalan karena angkot yang mereka naiki tidak menuju ke pelabuhan, dan alhasil mereka harus nebeng truk ke pelabuhan itupun mereka di getok dengan harga yang tidak wajar. Rasanya pengen ngakaaaaak guling-guling sambil nelen pelampung dengar cerita mereka .. wkwk

Sampai di pulau Kenawa matahari sudah hampir terbenam dan saking baiknya mas Kamiolah ini, dengan senang hati dia bersedia menjemput teman kami yang sekarang sedang otw menuju pototano tanpa biaya tambahan. Hal ini mengingatkan saya bahwa Tuhan memang Maha Adil setelah beberapa kejadian yang menimpa seharian ini.

*bagi yang butuh nomor kontak sewa perahu ke pulau kenawa bisa add PIN saya 7656C5AD terlebih dahulu, karena saya tidak tega menyebar nomor orang sembarangan 🙂

menuju pulau kenawa

menuju pulau kenawa

6 Comments

  • salam kenal mas,

    saya ada rencana mau ke Kenawa sekitar Desember 2015 ini nanti. untuk warga sana yang bisa nyeberangin ke Kenawa boleh minta kontaknya? saya add pin mas tapi ga di approve2..hehee..mau nanya tentang kapal buat nyeberang ke situ sama island hopping pulau-pulau sekitar kenawa.

    salam,

  • Masbro, boleh minta nomor kontaknya pak Kamiolah? Boleh reply-nya ke-email saya yang buat komen ini? Saya gak punya BBM. Hehe. Thanks ya.

Leave a Comment