Dolan

Perjuangan Menggapai Puncak Gunung Merapi

Siapa yang tak kenal Gunung merapi, gunung yang sering muncul di layar tv anda karena kehebohannya saat erupsi dan efeknya pasca erupsi. Bahkan dulu sempat menjadi sebuah Sinetron kolosal yang berjudul misteri gunung merapi yang dibintangi oleh Farida Pasha sebagai mak lampir dan Marcellino, klo gak salah sampai jilid 3, waktu itu saya masih sekolah dasar dan merupakan tontonan utama di hari minggu malam pukul 19.30 wib.

Bercerita tentang Gunung merapi maka tak lepas juga dari sosok Mbah Maridjan karena kesetiaanya menjadi juru kunci sampai akhir hayatnya. Satu hal yang masih teringat dan bagian paling mengharukan yang masih membekas sampai sekarang adalah penemuan jasad mbah maridjan dengan posisi sujudnya dibawah reruntuhan rumahnya pasca semburan wedhus gembel yang kedua ditahun 2010. Benar-benar kisah heroisme yang patut kita teladani dan ceritakan ke anak-cucu kita kelak.

Sebagai seorang yang tinggal di tengah-tengah antara gunung merapi dan laut selatan, tentunya sudah hafal tentang perilaku gunung yang satu ini dengan siklusnya 4-5 tahunanya. Disaat tenang dan musim panas merapi selalu nampak jelas dari kejauhan termasuk dari rumahku.

Sejak kecil selalu ingin manjat ke puncak merapi melihat kegagahannya dari dekat, namun mentok-mentoknya cuma sampai ke kaliurang dan keinginan yang sudah lama terpendam itu baru terwujud di bulan Oktober kemarin, saat pertama kalinya mendaki gunung merapi tepat di minggu-minggu akhir musim kemarau tahun ini.

Seperti biasa ritual sebelum pendakian yang selalu saya lakukan dengan pasang hashtag #planmerapi untuk cari barengan di twitter siapa tau ada yang nyantol, sampai akhirnya ketemu juga barengan satu orang dari semarang dan satu orang dari cilacap. kami sepakat berangkat selepas maghrib dari Basecamp Selo.

Di penghujung musim kemarau ini memang banyak para pendaki yang hendak ke puncak merapi namun sayangknya kondisi rute yang dilalui sangat berdebu dan banyak kerikil kecil yang sering kali bikin kita tergelincir.

Setengah malam sudah menyusuri tanah yang semula berdebu kini berubah menjadi berbatu, dan jurang di seberang kanan-kiri tak terlihat oleh pekatnya malam, semoga tetap cerah meskipun tak berbintang. Seorang teman yang dari cilacap memutuskan untuk tak melanjutkan karena kondisinya yang tiba-tiba lemah dan meriang .

Pukul 00.00 sampailah disebuah tempat yang orang-orang menyebutnya batas vegetasi karena sudah tak ada lagi pepohonan yang tumbuh disini. Sebagian orang lebih memilih pasang tenda disini daripada di pasar bubrah walaupun sama-sama lokasi yang sulit untuk berkemah.

Dimalam hari puncak merapi tak pernah sepi, sampai menjelang pagi para pendaki masih datang dan pergi. Sampai sang surya perlahan mulai nampak kamipun segera bergegas keluar dari persembunyian dengan sedikit pengantar kopi panas penambah semangat menuju pasar bubrah yang ternyata sudah penuh dengan warna-warni tenda para pendaki.

Pasar bubrah sendiri adalah sebuah tempat terluas di dataran merapi yang mana banyak berserakan batu besar dan kecil dan sebagai tempat peristirahatan terakhir para pendaki. Pasar bubrah juga sering disebut sebagai pasar jin karena sering munculnya suara-suara berisik seperti layaknya pasar ataupun suara gamelan yang tiba-tiba terdengar. Namun apapun ceritanya itu hanyalah mitos yang anda berhak percaya atau tidak kebenaranya.

Tantangan terberat disini adalah, perjalanan dari pasar bubrah ke puncak merapi dengan kemiringan hampir 80 derajat plus kontur yang berpasir dan berbatu yang labil kalau diinjak langsung longsor. sama seperti dalam Film 5 CM bahwa sesama pendaki harus saling mengingatkan dengan pendaki lainya yang dibawah apabila ada longsoran batu dari atas.

Dengan nafas yang masih tersengal-sengal tiada henti sampai juga menggapai puncak merapi meski puncak garuda kini sudah tak ada. Puas , lelah, senang, bisa sampai ke titik klimaks ini yang memang membutuhkan kebulatan tekad yang kuat.

Puncak yang awalnya tenang kini semakin riuh oleh para pendaki dengan atribut bendera maupun kertas yang bertuliskan salam yang saat ini sedang ngetren dikalangan anak muda pencari puncak.

Keindahan dari sang pencipta ini rasanya sulit diterjemahkan dengan kata-kata maupun lensa kamera canggih sekalipun. biarkan waktu yang memaksa untuk segera kembali pulang. Merapi tetaplah bagaikan harimau yang sedang tertidur lelap, kita bisa mengaguminya dari dekat namun bersiaplah menghindar jauh bahkan sangat jauh malah, apabila ia sudah terbangun, seperti halnya Mataram kuno yang hijrah ke Jawa timur karena seringnya terjadi bencana gunung meletus.

pantai pulau merah banyuwangi

lokasi ngecamp di pasar bubrah merapi

pantai pulau merah banyuwangi

pasar bubrah

pantai pulau merah banyuwangi

pemandangan gunung merbabu dari merapi

pantai pulau merah banyuwangi

???

1 Comment

Leave a Comment